Hubungan Filsafat dengan Sastra
Filsafat dan sastra ibarat dua sisi mata uang. Sisi yang satu tidak
dapat dipisahkan dengan sisi yang lain. Hubungannya bersifat komplementer atau
saling mengisi dan melengkapi (Mahayana, 2008). Demikianlah dasar hubungan
antara filsafat dan sastra yang harus dipahami. Mengutip pemikiran Javissyarqi
(2006) dalam kumpulan sajaknya yang berjudul Takdir Terlalu Dini, Javissyarqi
menjelaskan bahwa barat dan timur itu tak dapat dipisahkan karena hubungannya
bersifat komplementer. Sisi Barat (bagaimanapun bentuknya) tidak akan pernah
ada tanpa sisi Timur. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Sisi Timur (bagaimanapun
bentuknya) tidak akan pernah ada tanpa sisi Barat. Demikian pula dengan
filsafat dengan sastra.
Bagaimanapun perbedaan yang terdapat dalam filsafat dan sastra,
muara keduanya tetaplah sama, yaitu manusia dan kehidupannya. Hal ini sesuai
dengan pendapat Mahayana (2008) yang menjelaskan bahwa filsafat dan sastra
merupakan refleksi atas kehidupan manusia. Sutrisno (1995) menegaskan bahwa
filsafat dan sastra memiliki muara yang sama, yaitu kehidupan manusia.
Sejak manusia mengenal mitos, sejak itu pula hubungan filsafat dan
sastra tidak bisa dipisahkan. Banyak sekali filsafat-filsafat yang dituangkan
dalam bentuk sastra. Hal ini merupakan salah satu cara filsafat menyentuh
masyarakat dengan segala pencerahan kehidupan yang kandungnya. Dengan demikian,
dapat dipahami bahwa dalam konteks tersebut, sastra merupakan corong filsafat
dalam menyentuh masyarakat.
Dalam konteks sastra merupakan corong filsafat dalam menyentuh
masyarakat, dapat dipahami bahwa sastra merupakan penghubung filsafat dengan
masyarakat. Filsafat yang dikenal menggunakan ‘bahasa yang tinggi’ dan abstrak,
menjadikannya sulit dipahami. Dengan adanya sastra sebagai corong filsafat,
maka dengan mudah masyarakat memperoleh pencerahan kehidupan dari filsafat
tersebut.
Selain sebagai corong filsafat untuk menyentuh masyarakat, sastra
juga dapat berfungsi sebagai lahan filsafat untuk mengembangkan dahan-dahan
falsafahnya. Sastra sebagai cermin kehidupan yang menyajikan cerita-cerita
kehidupan adalah wadah filsuf dalam mengembangkan falsafah-falsafah baru bagi
kehidupan manusia. Kehidupan yang terus berkembang tersebut (yang terurai dalam
karya sastra) pada akhirnya terus diikuti oleh perkembangan filsafat yang
berfungsi sebagai pemberi cahaya dalam kehidupan manusia agar lebih memiliki
makna.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami hubungan filsafat dan
sastra ibarat dua sisi mata uang yang bersifat komplementer. Filsafat tanpa
sastra akan kehilangan salah satu corongnya dalam menyentuh kehidupan
masyarakat. Apabila filsafat sudah tidak lagi bisa menyentuh masyarakat, maka
filsafat akan kehilangan eksistensinya. Demikian pula dengan sastra. Sastra
tanpa muatan falsafah kehidupan akan kehilangan ‘kesakralannya’.
Hakikat Filsafat Sastra
Berikut akan diuraikan hakikat filsafat sastra yang mengacu pada
pendapat Djojosuroto (2007). Filsafat sastra adalah filsafat yang menganalisis
nilai-nilai kehidupan manusia yang dijabarkan seorang sastrawan dalam karya
sastranya; filsafat sastra adalah filsafat yang menganalisis karya sastra
dengan latar belakang sastra merupakan bagian dari kehidupan manusia, sastra
sebagai pranata sosial yang menggambarkan keadaan masyarakat dan kehidupan
budaya pada masa tertentu, dan sastra sebagai refleksi kehidupan manusia dengan
Tuhan; filsafat sastra merupakan wadah falsafah kehidupan yang menempatkan
nilai kemanusiaan dengan semestinya, terutama di tengah-tengah kehidupan
kemajuan sains dan teknologi.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa filsafat sastra
adalah filsafat yang mengupas hakikat nilai-nilai kehidupan manusia yang
terkandung dalam karya sastra. Kehidupan manusia tersebut (beberapa di
antaranya) meliputi hubungan manusia dengan manusia (hubungan horizontal),
manusia dengan alam (hubungan horizontal), hingga manusia dengan Tuhan
(hubungan vertikal).
Berikut ini adalah contoh analisis filsafat yang dilakukan oleh
Sutrisno (1995) pada kutipan karya sastra berjudul Maut dan Cinta karya Mochtar
Lubis.
“Manusia adalah makhluk Allah yang mempunyai kekeramatannya
sendiri. Tak dapat disamakan dengan seekor ayam atau kerbau. Manusia adalah
ciptaan Tuhan yang khas.”
“Dengan akal dan budinya, manusia manusia menduduki tempat yang khusus
di dalam jagad alam semesta. Manusia berpikir, manusia berakhlak dan berbudi,
manusia berbahasa, manusia dapat menimbang baik dan buruk. Manusia adalah
makhluk bernaluri, akan tetapi juga makhluk yang berpikir.”
Pada data di atas dapat disimpulkan bahwa Mochtar Lubis menjelaskan
kodrat manusia. Manusia dilahirkan dengan kebebasan yang komplit dan
bermartabat. Manusia bebas bertindak, bebas dalam hidup, dan tidak dihalangi
atau dibatasi oleh sesuatu. Pada inti kodratnya terletak martabat manusia yang
merupakan ruang khas untuk berkembang, bertindak bebas, berkeputusan, dan tidak
berada dalam kuasa orang lain. Kodrat hakiki dengan harkat dan kebebasan
tersebut bukanlah pemberian orang lain, melainkan anugerah dari Tuhan. Berkat
akal budi, manusia mampu menempatkan dirinya di jagad raya.
Berkat akalnya, manusia mampu mengatur alam dan menguasainya,
mengembangkan kebudayaan dan berbahasa. Juga dengan akalnya, manusia mampu
menimbang kehidupan yang baik dan yang buruk. Berkat kehendak yang bebas,
manusia mampu memilih dan dan melaksanakan sesuatu yang baik bagi dirinya dan
bagi sesamanya.
Dalam konteks yang lebih luas, filsafat sastra juga mengajarkan
pada manusia bentuk berfilsafat. Koreksi dan perbaikan atas kehidupan yang
telah dilaluinya akan menjaga ‘kesucian’ kehidupan yang akan dijalaninya.
Demikian uraian hakikat filsafat sastra. Uraian ini diakhiri dengan
sebuah sajak karya Mochammad A. Tomtom yang menurut Prof. Dr. Drs. I Wayan
Rasna, M. Pd. (pengampu mata kuliah Filsafat Ilmu di Program Pascasarjana
Undiksha Singaraja) sarat akan filsafat kehidupan.
“Kadang kala kita egois dan sama sekali tidak mau berpikir tentang
sesuatu yang ada di sekitar kita. Bahkan tentang sesuatu yang ada pada diri
kita. Misalnya tentang nafas. Pernahkah kita memikirkannya?”
“Kita semua tahu dalam nafas
hanya ada dua hal, yaitu menarik dan menghembuskannya. Bagaimana jika kita
menarik nafas kemudian tidak pernah menghembuskannya? Lantas bagaimana pula
jika kita menghembuskan nafas kemudian tidak pernah menariknya lagi?”
“-MATI- itu pasti!
Namun sebelum itu, mengapa kita tidak berbuat sesuatu yang indah?
Setidaknya kita mengenali diri sendiri dan sesuatu yang ada di sekitar kita?
Karena banyak di antara kita yang ‘pergi’ sebelum ia sempat mengenal dirinya
sendiri dan sesuatu yang ada di sekitarnya. Sehingga ia tidak tahu di mana ia
berpijak dan ke mana akan melangkah. Semoga kita tidak!
Karena kita tidak hanya sebatas nama, tapi sebuah kekayaan se-kaya
alam semesta. Kemudian kita mencoba untuk menceritakan pada dunia bahwa …
INILAH AKU YANG MENGHIASI
NAFAS DEMI NAFASKU!”
DAFTAR PUSTAKA
Djojosuroto, Kinayati. 2007. Filsafat Bahasa. Yogyakarta:
Pustaka Book Publisher.
Javissyarqi, Nurel. 2006a. Takdir Terlalu Dini. Lamongan:
Pustaka Pujangga.
Javissyarqi, Nurel. 2006b. Trilogi Kesadaran. Lamongan: Pustaka
Pujangga.
Mahayana, Maman S. 2008. Hubungan Sastra dan Filsafat.
Sutrisno, Mudji. 1995. Filsafat, Sastra, dan Budaya.
Jakarta: Obor.
http://media-ponorogo.blogspot.co.id/2012/11/filsafat-sastra.html
Comments
Post a Comment